Kecerdasan Digital : Kecerdasan Baru Milenium

oleh Fenan Yohanes*

Pengantar

Dunia saat ini sudah berbeda dengan dunia 5 tahun lalu, dan mungkin besok, tidak akan lagi sama seperti hari ini. Telah terjadi perubahan secara masif, cepat dan global dalam tatanan ekonomi disertai dengan pengaruh industrial marketing 4.0 technology. Pengaruh ini bertumbuh makin kuat di tengah pandemi Covid-19. Perubahan ini mempengaruhi dunia pendidikan ke bentuk transformasi digital yang lebih kompleks. Sebuah kompleksitas transformasi digital yang terwujud dengan interaksi komunikasi dari bentuk tradisional atau fisik ke bentuk digital dengan pergerakan belajar dari rumah aja. Transformasi ini melahirkan isu akan pentingnya sebuah kecerdasan untuk mendukung digitalisasi dalam perkembangan milenial khususnya ketika berhadapan dengan pendidikan dan tumbuh kembang anak.

Penelitian yang dilakukan pada 38,000 berusia 8-12 tahun di 29 negara baru-baru ini telah menemukan adanya ekposial ancaman online. Ancaman tersebut berupa menurunnya tingkat empati disertai naiknya tingkat kecemasan dan tekanan sosial di antara kawan-kawan sepermainannya, muncul kecanduan digital, cyber-bullying, pencurian identitas digital dsb. Seperti disajikan pada gambar di bawah ini, disebutkan bahwa ada 390 juta anak berusia 8-12 tahun, berpotensi terkena resiko cyber sebagai hasil penelitian tersebut.

Sumber : DQ Global Standards Report, 2019

Munculnya platform-platform digital baru yang diluncurkan setiap tahun telah mengundang perhatian masyarakat, terlebih ketika para pengguna (user) pada platform-platform tersebut terus meningkat. Kalangan muda dapat dengan mudah mendapatkan akses pada platform tersebut tanpa adanya antisipasi mental. Bahkan anak-anak dibawah 18 tahun dapat mudah memperoleh akses terhadap internet atau bentuk-bentuk digital lainnya jika tidak diawasi.

Belum lagi jika istilah viral yang telah membentuk mindset komsumtif terhadap konten digital mendorong rasa ingin tahu dan kemudian melakukan penjelajahan konten (content searching) dan akhirnya terpengaruh. Pengaruh ini berpotensi melahirkan perilaku perilaku disorientatif jika langkah preventif tidak dilakukan.

Indonesia menempati posisi ke-26 secara global untuk Child Online Safety Index (COSI) menurut penelitian DQ Institute.

Sumber DQ Institute : Global Child Online Safety Index, 2020

Gambar diatas mengindikasikan bahwa performansi Indonesia berada di bawah rata-rata dengan skor yang rendah pada level bimbingan dan edukasi untuk ancaman cyber. Sehingga Sekolah dan keluarga harus diberdayakan untuk mendidik anak-anak membentuk level keamanan dalam dunia digital.

Apa itu kecerdasan Digital?

Istilah Kecerdasan Digital atau Digital Intelligence dipromotori oleh DQ Institute pada tahun 2016, yang menyebutkan bahwa kecerdasan digital merupakan “suatu set teknis komprehensif, kognitif, meta kognitif, kompetensi sosial emotional, didasarkan pada nilai-nilai moral, yang memungkinkan individu siap menghadapi tantangan dan beradaptasi dengan tuntutan hidup digital”.

Diligent atau Digital Intelligence menjadi fenomena kecerdasan penting pada dunia digitalisasi dewasa ini karena pengembangan keterampilan dan kompetensi terkait teknologi informasi (IT) dan komunikasi dalam beragam bentuk peralatan teknologi, yang memotivasi pengembangan teknologi di bidang Pendidikan.

Seperti halnya pengukuran intelegensi lainnya yakni IQ, EQ, PQ dan CQ, DQ Institute menyebutkan bahwa Kecerdasan Digital dapat diukur secara adaptif pada anak-anak dan kaum muda dewasa ini. Semua bentuk kecerdasan seperti IQ, EQ, PQ dan CQ serta Multi Intelligensi menurut Howard Gardner dapat menjadi kunci untuk membangun kecerdasan digital serta kemampuan untuk menghadapi ancaman online (Online threat) seperti cyberbullying, pencurian identitas atau berita palsu.

Diligent atau Digital Quotient (DQ) atau Kecerdasan Digital, terdiri 8 area dengan 3 sub kemampuan yakni pengetahuan keterampilan, sikap, dan nilai-nilai pada masing-masing 8 area tersebut. Adapun delapan kemampuan digital, dengan 3 sub kemampuan masing-masing, adalah sebagai berikut :

  1. Identitas Digital (Digital identity)

Merupakan kemampuan untuk menciptakan dan mengelola jati diri serta reputasi online. Kemampuan ini mencakup kesadaran tentang persona online dan pengelolaan dampak baik jangka pendek maupun jangka panjang dari eksistensi seseorang secara online.

Pada kemampuan ini terdapat 3 level sub kemampuan yakni Identitas Digital sebagai Warganegara (Digital Citizen Identity), Identitas sebagai Mitra Kreator Digital (Co-Creator Digital Identity), dan Identitas Pembuat Perubahan Digital (Digital Changemaker Identity).

2. Penggunaan Digital (Digital Use)

Merupakan kemampuan menggunakan perangkat dan media digital, termasuk kemampuan untuk mengendalikan diri dalam penggunaan tersebut untuk mencapai keseimbangan yang sehat antara hidup online dan offline.

Terdapat 3 level sub kemampuan yakni Keseimbangan Penggunaan Teknologi (Balanced used of Technology), Penggunaan Teknologi secara Sehat (Healthy use of technology), dan Penggunaan Teknologi Sipil (Civic use of Technology).

3. Keselamatan Digital (Digital Safety)

Merupakan kemampuan untuk mengelola risiko (misalnya cyberbullying online, radikalisasi dst) serta konten problematis seperti (kekerasan dan percabulan), serta kemampuan untuk menghindari dan membatasi diri terhadap resiko tersebut.

Terdapat 3 level sub kemampuan yakni Keseimbangan Penggunaan Teknologi (Balanced used of Technology), Penggunaan Teknologi secara Sehat (Healthy use of technology), dan Penggunaan Teknologi Sipil (Civic use of Technology).

4. Keamanan Digital (Digital Security)

Merupakan kemampuan untuk mendeteksi ancaman dunia maya (misalnya hacking, scams malware dsb), untuk memahami praktek-praktek terbaik serta penggunaan alat-alat pengamanan yang sesuai untuk perlindungan pendataan.

Terdapat 3 level sub kemampuan yakni Pengelolaan Keamanan Cyber Personal (Personal Cyber Security Management), Pengelolaan Keamanan Jaringan (Network Security Management), dan Pengelolaan Keamanan Cyber Organisasi (Organizational Cyber Security Management).

5. Kecerdasan Emosional Digital (Digital emotional intelligence)

Merupakan kemampuan agar mampu berempati dan membangun hubungan yang baik dengan orang lain secara online.

Terdapat 3 level sub kemampuan yakni Pengelolaan Relasi (Relationship Management), Pengelolaan Kesadaran Diri (Self Awareness Management), dan Empati Digital (Digital Emphaty).

6. Komunikasi Digital (Digital communication)

Merupakan kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain menggunakan teknologi digital dan media.

Terdapat 3 level sub kemampuan yakni Komunikasi Publik dan Massa (Public and Mass Communication), Komunikasi dan Kolaborasi Online (Online Communication and Collaboration), dan Pengelolaan Jejak Digital (Digital Footprint Management).

7. Literasi Digital (Digital literacy)

Merupakan kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, dan menciptakan konten serta kompetensi dalam hal berpikir komputasional.

Terdapat 3 level sub kemampuan yakni Data dan Literasi Kecerdasan Buatan (Data and Artificial Intelligence Literacy), Kreasi Konten dan Literasi Komputasional (Content Creation and Computational Literacy), dan Literasi Media dan Informasi (Media and Information Literacy).

8. Hak Digital (Digital rights)

Merupakan kemampuan untuk memahami dan menjunjung tinggi hak-hak hukum pribadi dan legal, termasuk hak privasi, kekayaan intelektual, kebebasan berbicara dan perlindungan dari ujaran kebencian (haters).

Terdapat 3 level sub kemampuan yakni Keterlibatan Pengelolaan Hak (Participatory Rights Management), Pengelolaan Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual Property Right Management), dan Pengelolaan Privasi (Privacy Management).

Sumber : DQ Institute, 2017

8 Kemampuan dengan 3 sub level kemampuan pada tiap area kemampuan tersebut membentuk 24 kompetensi untuk menunjang formasi Kecerdasan Digital.

Digitalisasi Pendidikan.

Pendidikan menjadi area yang mengalami dampak akibat pergeseran digital marketing 4.0. Dan teknologi pendidikan kini berkembang dengan hadirnya ragam aplikasi dan program yang variatif dan kreatif. Namun pendidikan kedepannya tentunya memerlukan kecerdasan digital, lebih dari sekedar mengoperasikan smartphone atau laptop sebagai salah satu kelengkapan keterampilan untuk menghadapi kehidupan digital.

Platform digital melalui internet telah diciptakan oleh sektor-sektor pendidikan global secara kreatif untuk mewujudkan pembelajaran yang dapat diakses semua orang. Pendidikan online pun telah menjadi alternatif untuk membantu pembelajaran tetap bertahan di tengah pandemi covid-19 serta meneruskan  tanggung jawab pendidikan untuk mewujudkan prinsip education for all.

Anak-anak dewasa ini telah menggunakan teknologi dan bertahan lama-lama di depan smartphone serta perangkat lainnya untuk mengakses informasi. Perilaku ini telah menciptakan tingkat komsumsi yang tinggi terhadap kebutuhan digital yang melahirkan pengaruh para perkembangan anak-anak.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia baru-baru ini mengeluarkan Materi Pendukung Literasi Digital serta Kerangka Literasi Digital Indonesia untuk mendukung Gerakan Literasi Nasional. Tindakan ini perlu ditunjang dengan Kecerdasan Digital serta sebagai tindakan edukatif untuk semua orang dalam mewujudkan tantangan global industrial marketing 4.0.

Penutup

Digitalisasi telah menyebabkan transformasi cara berpikir, perasaan dan situasi hidup serta mengubah tatanan norma moral yang membutuhkan respons dan penyesuaian diri. Sehingga managemen perubahan dalam setiap sistem hidup harus diwujudkan untuk membentuk kekuatan, keterampilan dan menyikapi kelemahan individu dalam rangka kesuksesan dalam tantangan industri dewasa ini.

Dunia digital memang menawarkan banyak peluang dan kemudahan tetapi juga menjadi sumber keprihatinan bagi orang tua dan para pendidik khususnya ketika kehidupan digital itu memberi pengaruh pada edukasi nilai anak-anaknya.  

Mendorong terciptanya kecerdasan digital merupakan tantangan bagi orang tua dan pendidik dewasa ini. Menjadi tantangan karena anak-anak dewasa ini pandai menggunakan gadget sementara orang tuanya masih harus menyesuaikan diri. Menjadi tantangan karena adanya kesenjangan penguasaan teknologi terkait usia (Age gap of technology usage) yang menjadi salah satu penyebab rendahnya level pengawasan akibat kurangnya pengetahuan teknologi terkait usia tersebut.

Untuk itu diperlukan pelatihan, kampanye dan program di dunia pendidikan untuk mengedepankan 24 kompetensi digital dalam rangka mendorong keunggulan para siswa beradaptasi dengan dunia digital global serta pengetahuan para pendidik dan orang tua untuk berperan aktif menunjang formasi kecerdasan digital.

Referensi :

Adams, Nan B. (2004). Digital Intelligence Fostered by Technology. Journal of Technology Studies. 30 (2): 93–97. ISSN 1071-6084.

DQ Institute, 2017. White paper – Digital Intelligence (DQ): A Conceptual Framework & Methodology for Teaching and Measuring Digital Citizenship. (PDF). Diakses 22 Desember 2020.

DQ Institute, 2020. Indonesia Country Level Report. Child Online Safety Index Report. (PDF). Diakses 22 Desember 2020

Manasia, Loredana, et.all, 2018. Memories from the future. Is digital intelligence what matters in the forthcoming society?. Polytechnic University of Bucharest

Newman, Daniel, ed, 2017. Heart of Successful Digital Transformation. (PDF). Diakses 22 Desember 2020.

Park, Yuhyun, 2019. DQ Global Standards Report 2019. (PDF). DQ Institute. Diakses 22 Desember 2020.


* Penulis adalah Neuropsikolog, Konsultan SDM/IT, SME Neurolinguistik dan Peneliti Kesehatan di Human Focus Bali (PT.Bali Sembada Internasional)  dan Global Health Alliances.

2 thoughts on “Kecerdasan Digital : Kecerdasan Baru Milenium

  1. Pingback: DILIGENT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *